Sunday, May 7, 2017

(Cerpen) Sahabat itu tak pandang kaya miskin

Related image


   Disuatu sekolah, terdapat empat orang sahabat. Mereka adalah Amalia, Winda, Wiji, Syahirul.  Mereka mempunyai karakter yang berbeda. Winda adalah orang kaya yang sok baik di depan tiga kawannya, tapi sebenarnya dia sangat sombong, sedangkan tiga orang temannya adalah anak orang kurang mampu, tetapi mereka punya hati yang tulus. Mereka bias dikatakan sahabat, tapi sebenarnya Winda tak tulus menganggap mereka sebagai sahabat. Winda menganggap mereka seolah-olah sahabat karena mereka adalah anak-anak terpintar di sekolah. Winda memanfaatkan mereka agar mereka mau mengerjakan tugas-tugasnya. Ketiga kawanan itu tulus menganggapnya sebagai sahabat karena Winda memang tak pernah melakukan perbuatan tercela di depan mereka sampai suatu hari ketika Winda sakit, ketiga sahabat itu berencana menjenguk Winda, tetapi mereka tak punya cukup uang untuk membeli barang bawaan, sampai akhirnya mereka membeli satu bungkus roti tawar yang harganya cukup murah sesuai dengan uang yang mereka punyai.
            “Mungkin hanya ini saja yang bias kita beli, kita nggak punya uang lagi”. Kata Wiji
            “Ya, mudah-mudahan Winda menerima ya”. Sahut Amalia
            “Pastinya”. Kata Syahirul dengan percaya diri.
Sampai di rumah Winda, mereka melihat teman sekelas lain yang datang menjenguk Winda. Berbeda dengan mereka, teman sekelas lain memberikan satu buah keranjang besar dengan roti bermerk ternama. Mereka langsung masuk dan bergabung bersama teman-teman lain yang disambut antusias teman-temannya.
            “Apaan tuh?”. Tiba-tiba Winda berbicara dengan nada agak meninggi melihat bawaan ketiga sahabatnya.
            “Bawa tuh yang level kali sama gue, anak yang ada di kolong jembatan aja ogah makan roti murahan kaya gitu”. Lanjut Winda dengan kasar.
            “Maksud kamu apa, Win? Kamu bercanda ya?”. Jawab Amalia agak bingung yang diikuti ekspresi kaget teman-temannya
            “Maaf, Win. Kita gak punya cukup uang ngasih lo sesuatu yang lebih bagus”. Sahut Syahirul dengan nada tak kalah bingung.
            “Lo bertiga kesini tuh malu-maluin tau nggak? Udah anak orang miskin, beli roti murahan kayak gitu, mendingan kalian bertiga pulang deh. Gue nggak butuh kalian bertiga”. Kata Winda tanpa rasa bersalah.
Sesaat, teman sekelas Winda pun bingung, dan tak menyangka atas kelakuan Winda yang seperti itu.
            “Lo apa-apaan sih? Mereka bertiga tuh sahabat lo”. Sahut Tiwi teman sekelas Winda.
            “Nggak. Gue nggak punya sahabat gembel kayak mereka bertiga”. Kata Winda tanpa memerhatikan Amalia yang mulai terisak.
            “Gue anggap lo teman kita, lo selalu minta kita ngerjain tugas lo, meskipun itu juga ganggu kita banget, tapi sedikitpun kita nggak pernah ngeluh ke lo, karena kita tau…” Omongan Wiji terhenti karena tiba-tiba Winda menyahut.
            “Karena lo tau gue kayak an. Gue punya mobil, baju selalu disetrika, gak lusuh kaya lo, sepatu gue bersih. Siapa lo yang mau nyamain derajat sama gue?”
            “Bukan karena itu kita temenan sama lo, kita tulus sayang sama lo, lo tau nggak pengorbanan kita buat beli roti yang menurut lo murahan ini. Roti ini harganya Rp 15.000, mungkin menurut lo gampang buat beli roti dengan harga segitu, tapi buat kita, itu susah banget, Win. Kita makan aja susah, uang kita aja gak cukup buat beli roti ber merk kayak yang lo pengenin. Jadi maafin kita, kalo udah buat lo malu punya sahabat kaya kita”. Kata Amalia sambil terisak-isak sembari keluar.
            “Seberapa banyak harta lo, mereka itu benda mati yang nggak bisa bergerak, Win, Mereka nggak bias ngerjain tugas lo, bercandain lo, atau ngelindungin lo ketika lo kena bahaya. Dan satu lagi, gue akhiri persahabatan kita”. Kata Wiji penuh emosi diikuti Syahirul yang meninggalkan rumah Winda.
            “Maaf win, kita kecewa banget atas perbuatan lo tadi, nggak seharusnya lo nglakuin hal kayak tadi, terlebih mereka sahabat yang selalu ada disampingmu, kalau gue jadi mereka gue pasti bakalan sakit hati dan pasti seketika akan nampar lo. Gue nggak tau apa yang ada dipikiran lo sampai tega ngmong gitu sama mereka”. Kata tiwi penuh emosi lalu pergi di ikuti teman-temannya sehingga tinggallah winda sendiri.                       
Besoknya, winda sudah sembuh tapi teman-teman sekelasnya, terlihat mengacuhkannya dan bahkan ketika ia lewat ada yang yang sengaja menyindirnya secara terang terangan. Ia ingin menangis tapi apa gunanya, hanya akan membuatnya semakin malu lalu ia berniat untuk menemui ketiga kawan yang ia sakiti dan meminta maaf pada mereka. Ketika melihat ketiga temannya di kantin, ia menhampiri mereka tapi ia ragu ragu untuk meminta maaf
            “Kawan maafkan aku, aku sudah menyakiti kalian, aku tau aku pantas ditampar atau bahkan lebih dari itu karena perbuatan ku sungguh menyakiti hati kalian. Perkataanku sangat tidak sopan dan……”. Kata winda sambil terisak.
 “Sudahlah, kamu kenapa? Kita sudah memaafkanmu kok, kita anggap kamu sahabat kita, kita nggak bisa benci sama kamu”. Potong amalia sambil memeluk Winda yang menangis tersedu-sedu. Amalia melirik Wiji dan Syahirul dengan tersenyum dan dibalas dengan senyum oleh mereka berdua.
 “Mulai sekarang kita sahabat lagi kan ?” Tanya syahirul dengan wajah sumringah.
“Nggak usah di Tanya kellesz ya iyalah kellesz” Kata Wiji sambil menjitak kening Syahirul
. Lalu empat sahabat itupun tertawa senang.
 O…iya gimana dengan kawan-kawan sekelas? Pasti mereka masih membenci aku?? Tanya Winda dengan gelisah dan wajahnya berkaca-kaca.
 “Nggak kok, kita maafin lo. Lo udah sadar atas perbuatan lo, kita ngelakuin itu, biar lo tau arti sahabat itu. Sahut Tiwi yang tiba-tiba dating dari belakang Winda dan langsung merangkulnya dan teman-teman Winda yang muncul dari balik kantin dan memasang wajah senyum mereka.
“Mulai sekarang lo teman kita lagi, tapi ingat!!! Nggak boleh arogan!!. Oke!!” kata Tiwi yang disambut tawa teman-temannya.
 Sementara Winda yang mendengar itu seketika menangis karena terharu. Ternyata teman-temannya begitu menyayanginya, ia sadar satu hal bahwa sahabat maupun teman itu adalah barang yang sangat berharga yang mempunyai ribuan kali lipat lebih berharga dari pada uang.


                                                                                                            Writer by : Dima Windasari

No comments:

Post a Comment

KOMENTAR DENGAN BAIK DAN TAAT ATURAN YA CAH...,