Disuatu sekolah,
terdapat empat orang sahabat. Mereka adalah Amalia, Winda, Wiji, Syahirul.
Mereka mempunyai karakter yang berbeda. Winda adalah orang kaya yang sok baik
di depan tiga kawannya, tapi sebenarnya dia sangat sombong, sedangkan tiga
orang temannya adalah anak orang kurang mampu, tetapi mereka punya hati yang
tulus. Mereka bias dikatakan sahabat, tapi sebenarnya Winda tak tulus
menganggap mereka sebagai sahabat. Winda menganggap mereka seolah-olah sahabat
karena mereka adalah anak-anak terpintar di sekolah. Winda memanfaatkan mereka
agar mereka mau mengerjakan tugas-tugasnya. Ketiga kawanan itu tulus
menganggapnya sebagai sahabat karena Winda memang tak pernah melakukan
perbuatan tercela di depan mereka sampai suatu hari ketika Winda sakit, ketiga
sahabat itu berencana menjenguk Winda, tetapi mereka tak punya cukup uang untuk
membeli barang bawaan, sampai akhirnya mereka membeli satu bungkus roti tawar
yang harganya cukup murah sesuai dengan uang yang mereka punyai.
“Mungkin hanya ini saja yang bias kita beli, kita nggak
punya uang lagi”. Kata Wiji
“Ya, mudah-mudahan Winda menerima ya”. Sahut Amalia
“Pastinya”. Kata Syahirul dengan percaya diri.
Sampai di rumah Winda,
mereka melihat teman sekelas lain yang datang menjenguk Winda. Berbeda dengan
mereka, teman sekelas lain memberikan satu buah keranjang besar dengan roti
bermerk ternama. Mereka langsung masuk dan bergabung bersama teman-teman lain yang
disambut antusias teman-temannya.
“Apaan tuh?”. Tiba-tiba Winda berbicara dengan nada agak
meninggi melihat bawaan ketiga sahabatnya.
“Bawa tuh yang level kali sama gue, anak yang ada di
kolong jembatan aja ogah makan roti murahan kaya gitu”. Lanjut Winda dengan
kasar.
“Maksud kamu apa, Win? Kamu bercanda ya?”. Jawab Amalia
agak bingung yang diikuti ekspresi kaget teman-temannya
“Maaf, Win. Kita gak punya cukup uang ngasih lo sesuatu
yang lebih bagus”. Sahut Syahirul dengan nada tak kalah bingung.
“Lo bertiga kesini tuh malu-maluin tau nggak? Udah anak
orang miskin, beli roti murahan kayak gitu, mendingan kalian bertiga pulang
deh. Gue nggak butuh kalian bertiga”. Kata Winda tanpa rasa bersalah.
Sesaat, teman sekelas
Winda pun bingung, dan tak menyangka atas kelakuan Winda yang seperti itu.
“Lo apa-apaan sih? Mereka bertiga tuh sahabat lo”. Sahut
Tiwi teman sekelas Winda.
“Nggak. Gue nggak punya sahabat gembel kayak mereka
bertiga”. Kata Winda tanpa memerhatikan Amalia yang mulai terisak.
“Gue anggap lo teman kita, lo selalu minta kita ngerjain
tugas lo, meskipun itu juga ganggu kita banget, tapi sedikitpun kita nggak
pernah ngeluh ke lo, karena kita tau…” Omongan Wiji terhenti karena tiba-tiba
Winda menyahut.
“Karena lo tau gue kayak an. Gue punya mobil, baju selalu
disetrika, gak lusuh kaya lo, sepatu gue bersih. Siapa lo yang mau nyamain
derajat sama gue?”
“Bukan karena itu kita temenan sama lo, kita tulus sayang
sama lo, lo tau nggak pengorbanan kita buat beli roti yang menurut lo murahan
ini. Roti ini harganya Rp 15.000, mungkin menurut lo gampang buat beli roti
dengan harga segitu, tapi buat kita, itu susah banget, Win. Kita makan aja
susah, uang kita aja gak cukup buat beli roti ber merk kayak yang lo pengenin.
Jadi maafin kita, kalo udah buat lo malu punya sahabat kaya kita”. Kata Amalia
sambil terisak-isak sembari keluar.
“Seberapa banyak harta lo, mereka itu benda mati yang
nggak bisa bergerak, Win, Mereka nggak bias ngerjain tugas lo, bercandain lo,
atau ngelindungin lo ketika lo kena bahaya. Dan satu lagi, gue akhiri persahabatan
kita”. Kata Wiji penuh emosi diikuti Syahirul yang meninggalkan rumah Winda.
“Maaf win, kita kecewa banget atas perbuatan lo tadi,
nggak seharusnya lo nglakuin hal kayak tadi, terlebih mereka sahabat yang
selalu ada disampingmu, kalau gue jadi mereka gue pasti bakalan sakit hati dan
pasti seketika akan nampar lo. Gue nggak tau apa yang ada dipikiran lo sampai
tega ngmong gitu sama mereka”. Kata tiwi penuh emosi lalu pergi di ikuti
teman-temannya sehingga tinggallah winda sendiri.
Besoknya, winda sudah
sembuh tapi teman-teman sekelasnya, terlihat mengacuhkannya dan bahkan ketika
ia lewat ada yang yang sengaja menyindirnya secara terang terangan. Ia ingin
menangis tapi apa gunanya, hanya akan membuatnya semakin malu lalu ia berniat
untuk menemui ketiga kawan yang ia sakiti dan meminta maaf pada mereka. Ketika
melihat ketiga temannya di kantin, ia menhampiri mereka tapi ia ragu ragu untuk
meminta maaf
“Kawan maafkan aku, aku sudah menyakiti kalian, aku tau
aku pantas ditampar atau bahkan lebih dari itu karena perbuatan ku sungguh menyakiti
hati kalian. Perkataanku sangat tidak sopan dan……”. Kata winda sambil terisak.
“Sudahlah, kamu kenapa? Kita sudah memaafkanmu
kok, kita anggap kamu sahabat kita, kita nggak bisa benci sama kamu”. Potong
amalia sambil memeluk Winda yang menangis tersedu-sedu. Amalia melirik Wiji dan
Syahirul dengan tersenyum dan dibalas dengan senyum oleh mereka berdua.
“Mulai sekarang kita sahabat lagi kan ?” Tanya
syahirul dengan wajah sumringah.
“Nggak
usah di Tanya kellesz ya iyalah kellesz” Kata Wiji sambil menjitak kening Syahirul
.
Lalu empat sahabat itupun tertawa senang.
O…iya gimana dengan kawan-kawan sekelas? Pasti
mereka masih membenci aku?? Tanya Winda dengan gelisah dan wajahnya
berkaca-kaca.
“Nggak kok, kita maafin lo. Lo udah sadar atas
perbuatan lo, kita ngelakuin itu, biar lo tau arti sahabat itu. Sahut Tiwi yang
tiba-tiba dating dari belakang Winda dan langsung merangkulnya dan teman-teman
Winda yang muncul dari balik kantin dan memasang wajah senyum mereka.
“Mulai
sekarang lo teman kita lagi, tapi ingat!!! Nggak boleh arogan!!. Oke!!” kata Tiwi
yang disambut tawa teman-temannya.
Sementara Winda yang mendengar itu seketika
menangis karena terharu. Ternyata teman-temannya begitu menyayanginya, ia sadar
satu hal bahwa sahabat maupun teman itu adalah barang yang sangat berharga yang
mempunyai ribuan kali lipat lebih berharga dari pada uang.
Writer
by : Dima Windasari

No comments:
Post a Comment
KOMENTAR DENGAN BAIK DAN TAAT ATURAN YA CAH...,